Kamis, 22 Mei 2014

Suamiku terkena OA  penyebab syaraf terjepit di leher

 Suami tercinta termasuk orang yang bekerja hampir 90% berhadapan dengan komputer dan laptop. Karena sibuk beliau jadi jarang berolahraga.  Hari minggu pun kami habiskan untuk istirahat atau sekedar jalan- jalan ke taman dekat perumahan tempat kami tinggal, itupun naik motor. Paling-paling main badminton untuk sekedar having fun. Kadang kadang bersepeda menemani anak-anak kami yang memang lagi senang putar-putar perumahan naik sepeda. Dua bulan lalu suamiku terkena diare, masuk angin dan buang- buang air. Biasanya dengan minum beberapa pil norit, diarenya sembuh.  Tapi, kok ini disertai tubuh yang terhentak hentak dan kaku di jari kaki dan tangan. Sebelumnya memang pernah seperti itu dan dokter mendiagnosa kekurangan kalium atau hipokalemia. Dan pada saat suamiku sakit diare itu, ia sedang dalam kondisi normal kalium nya. Akhirnya ia ku bawa ke IGD rs terdekat.  Diagnosa dokter jaga ya hanya seputar diarenya dan di suruh pulang. Kutanya mengenai kaku kejangnya, dokter itu malah menganggap suamiku terlalu berlebihan menghadapi rasa sakitnya yang cuma diare itu. Namun pada saat itu kuputuskan untuk dirawat sehari 2 hari agar suamiku dapat beristirahat. Setelah pulang dari RS, suamiku mulai beraktivitas seperti biasanya. Namun ia mulai merasakan sakit dan pegal2 di seputar leher dan pusing kepala yang luar biasa. Dokter keluarga kami menyarankan agar memeriksakan diri suamiku ke dokter saraf. Maka, Pergilah ia ke dokter saraf di rs umum daerah. Setelah menceritakan riwayat penyakitnya, suamiku langsung diminta untuk ct scan. Alhamdulillah, hasil ct scan tdk memgindikasikan adanya tumor atau lainnya.  Kemudian, Dokter meminta ronsen 3 sisi di cervic atau leher untuk melihat kemungkinan sumber penyakitnya disana. Ternyata, hasil ronsen menyimpulkan adanya bantalan sendi tulang leher suamiku yang sudah aus sehingga menyebabkan ujung beberapa ruas tulang leher mencuat ke luar yang istilah medisnya disebut Osteoartritis (OA). Hal inilah yang menyebabkan sejumlah saraf leher menjadi terjepit tulang yang mencuat itu. Penyebabnya bisa jadi posisi tubuh  yang menetap pada waktu yg lama (kerjaan di dpn laptop mulu) atau buat para pria adalah di barber tradisional alias tukang cukur yg setelah cukur lehernya di kretek2 kanan kiri. Yaa, suamiku memenuhi 2 penyebab itu. Akhirnya, suamiku jadi rajin kontrol ke dokter saraf dan kini dicoba untuk fisioterapi di instalasi rehabilitasi medik untuk menguatkan otot2 lehernya. Dokternya pernah bilang ada kemungkinan untuk dioperasi, tapi saat ini kami coba jalur lain selain itu. Kami coba berobat alternatif  refleksi untuk membantu penyembuhan suamiku. Kami selalu berdoa kepada Allah SWT agar suamiku bisa segera sembuh dari penyakitnya dan menjadi suamiku yang gesit, ceria, dan sehat seperti dulu. Semangat, sayang!